Bagikan di :

Perawatan Covid-19 Berdasarkan Tingkatan Gejala

Masa pandemi sepertinya masih jauh dari kata usai. Ketika jumlah kasus di Indonesia sempat melandai dan memberikan harapan bagi kita semua, namun baru-baru ini disebutkan bahwa negara kita sedang mengalami gelombang kedua penyebaran virus Covid-19 dengan angka penularan yang kembali meroket serta disusul oleh jumlah kematian yang terus meningkat.

Tentu saja hal ini menjadi kekhawatiran bagi masyarakat serta pemerintah, karena keterbatasan tenaga medis serta sulitnya mencari ruang di Rumah Sakit sudah menjadi masalah baru yang dihadapi dari serangan gelombang kedua virus Covid-19.

Namun untuk menanggulangi masalah ini, dari Kementerian Kesehatan Indonesia sudah merilis panduan lengkap dalam mengidentifikasi tingkatan infeksi Covid-19 sesuai gejalanya dan juga tindakan yang bisa diambil dalam membantu proses penyembuhan. Dari informasi yang dirilis tersebut, tingkat infeksi Covid-19 dikelompokkan menjadi empat, yaitu :

Perawatan Covid-19 Berdasarkan Tingkat Gejala | Redoxon

Tanpa Gejala (1)

Ketika gejala sesak nafas dan batuk-batuk dicurigai sebagai pertanda awal Covid-19, masyarakat dikejutkan dengan kelompok yang tidak menunjukkan gejala apapun namun saat dilakukan tes swab, hasilnya dinyatakan positif terinfeksi. Inilah yang dimaksud dengan OTG atau Orang Tanpa Gejala. Hal ini cukup mengkhawatirkan sebab membuktikan bahwa siapa saja, bahkan yang kelihatan sehat dan tanpa keluhan sekalipun bisa terinfeksi virus tersebut.

Namun dari data yang dirilis ternyata OTG pun sebenarnya menunjukkan gejala yang memang tidak terlalu nampak namun saat diobservasi menunjukkan frekuensi nafas 12 – 20 kali per menit dan tingkat saturasi oksigen lebih dari sama dengan 95%. Untuk golongan pasien OTG disarankan untuk isolasi mandiri baik di rumah maupun fasilitas kesehatan pemerintah selama 10 hari setelah terkonfirmasi positif. Dan untuk mempercepat penyembuhan, terapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengonsumsi vitamin untuk Covid isolasi mandiri yang terdiri dari vitamin C, vitamin D dan Zinc yang berperan dalam meningkatkan imun tubuh.

Gejala Ringan (1)

Berbeda dengan OTG, orang dengan gejala ringan menunjukkan beberapa kondisi yang bisa langsung terlihat seperti demam, batuk kering ringan, kelelahan, sakit kepala, kehilangan indera penciuman dan perasa, nyeri tulang, nyeri tenggorokan, pilek dan bersin, nyeri perut, diare, iritasi mata, kemerahan pada kulit, perubahan warna jari kaki, frekuensi nafas 12 – 20 kali per menit dan tingkat saturasi oksigen lebih dari sama dengan 95%. 

Pasien dengan gejala ringan disarankan mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan milik pemerintah atau isolasi mandiri di rumah bagi yang memenuhi syarat. Untuk lamanya isolasi sendiri adalah 10 hari sejak pertama terkonfirmasi positif ditambah minimal 3 hari bebas gejala. Sedangkan terapi obat yang diberikan meliputi pemberian oseltamivir atau Favipiravir, Azitromisin, serta vitamin untuk covid yang terdiri dari vitamin C, vitamin D dan Zinc. 

Gejala Sedang (1)

Gejala sedang mirip dengan gejala ringan dimana pasien akan mengalami demam, batuk kering ringan, kelelahan, sakit kepala, kehilangan indera penciuman dan perasa, nyeri tulang, nyeri tenggorokan, pilek dan bersin, nyeri perut, diare, iritasi mata, kemerahan pada kulit dan perubahan warna jari kaki. Bedanya adalah pasien gejala sedang akan merasakan nafas pendek dengan frekuensi nafas 20 – 30 kali per menit, sesak nafas tanpa distress pernafasan dan saturasi yang kurang dari 95%. Jika mengalami gejala tersebut maka penderita harus mendapatkan perawatan baik di RS Lapangan, RS Darurat Covid-19, RS Non Rujukan atau RS Rujukan dengan masa perawatan 10 hari setelah terkonfirmasi positif ditambah minimal 3 hari bebas gejala. 

Terapi obat yang diberikan meliputi pemberian Favipiravir 200 mg IV, Azitromisin, kortikosteroid, antikoagulan LMWH/UHF berdasarkan hasil evaluasi dokter penanggung jawab, obat komorbid bila ada, dan terapi oksigen non-invasif dengan arus sedang sampai tinggi. Dan untuk mempercepat proses pemulihan serta meningkatkan imun tubuh penderita juga diberikan vitamin C, vitamin D dan Zinc.

Gejala Berat (1)

Pasien dengan gejala berat hingga kritis akan merasakan lebih banyak keluhan dibandingkan dengan tingkat lainnya, yaitu nafas pendek dengan frekuensi lebih dari 30 kali per menit, saturasi kurang dari 95%, gagal nafas, komplikasi infeksi, syok sepsis hingga kegagalan multiorgan. Dengan gejala berat seperti ini, penderita wajib dirawat di HCU/ ICU RS rujukan sejak dinyatakan positif hingga dinyatakan sembuh oleh dokter penanggungjawab pasien dengan hasil PCR negatif dan kondisi klinis membaik. 

Untuk terapi obatnya sendiri diberikan Favipiravir, Azitromisin, kortikosteroid, vitamin C, D dan Zinc, antikoagulan LMWH/UHF berdasarkan hasil evaluasi dokter penanggung jawab, obat komorbid bila ada, ventilator dan terapi tambahan.

Dari semua tingkatan gejala Covid-19 di atas, salah satu terapi yang selalu ada dan harus diberikan kepada pasien terkonfirmasi positif adalah mengonsumsi vitamin untuk Corona, yang terdiri dari vitamin C, vitamin D dan Zinc. Hal ini dikarenakan ketiga mikronutrien tersebut secara efektif membantu meningkatkan kekebalan tubuh agar tubuh mampu bertahan dan melawan infeksi virus yang menyerang. Secara spesifik, masing-masing unsur tersebut memiliki fungsi dan dosis yang dianjurkan sebagai berikut:

  • Vitamin C untuk Covid memiliki fungsi mengendalikan infeksi, mempercepat penyembuhan luka, memelihara dan melindungi sel tubuh, mempercepat regenerasi sel, hingga menangkal radikal bebas. Sedangkan untuk dosis maksimum yang bisa diterima dan digunakan oleh tubuh adalah 2000 miligram per hari (2).
  • Vitamin D membantu menjaga fungsi daya tahan tubuh tetap normal, karena vitamin D dapat mengaktifkan sel imun dan dapat merangsang produksi zat antimikroba sehingga tubuh dapat melawan penyakit secara efektif. Dosis maksimal yang dianjurkan dalam mengkonsumsi vitamin D adalah 4000 IU per hari (3).
  • Mineral Zinc diperlukan untuk meningkatkan ketahanan tubuh karena fungsinya membantu pertumbuhan sel, mensintesis protein, memulihkan sel tubuh yang rusak dan menunjang imunitas. Zinc juga menunjang komunikasi antara sel imun, sehingga dapat membantu tubuh dalam memberikan respon imun yang lebih efisien. Dosis Zinc maksimal yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 40 miligram per hari (4).

Melihat fungsi dari ketiga nutrisi tersebut, mengonsumsinya setiap hari akan membantu menjaga imunitas tubuh agar tidak mudah terinfeksi. Sedangkan bagi yang sudah terinfeksi virus Covid-19 ketiga vitamin tersebut dapat membantu proses penyembuhan dengan meningkatkan kinerja sel imunitas dalam melawan virus Covid-19. Jadi di masa pandemi seperti sekarang ada baiknya untuk selalu sedia vitamin C, vitamin D dan Zinc di rumah sebagai usaha dalam melindungi diri dan keluarga dari virus Covid-19. Semoga sehat selalu!

Referensi:

  1. Tata Laksana Pasien Covid-19 sesuai dengan Tingkatan Gejalanya, diakses pada 9 Juli 2021 dari Instagram Kementerian Kesehatan RI  https://www.instagram.com/p/CQn8H5QM26i/?utm_medium=copy_link
  2. The Nutrition Source Vitamin C, diakses pada 9 Juli 2021 dari https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/vitamin-c/
  3. The Nutrition Source Vitamin D, diakses pada 9 Juli 2021 dari https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/vitamin-d/
  4. The Nutrition Source Zinc, diakses pada 9 Juli 2021 dari https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/zinc/