Bagikan di :

Apa Itu Vaksin dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Imunitas

Maraknya berbagai jenis penyakit yang diakibatkan oleh virus dan bakteri menjadikan pemerintah sadar bahwa upaya pencegahan harus diambil untuk menekan jumlah penderita terutama di kalangan anak-anak dan orang dewasa, seperti polio, cacar air, pneumonia, hepatitis, difteri dan masih banyak lagi. Untuk mencegah beragam gangguan kesehatan akut tersebut, vaksinasi diberikan pada usia tertentu mulai dari bayi baru lahir hingga dewasa. 

Vaksinasi sendiri merupakan proses memasukkan bakteri atau virus yang sudah dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh untuk merangsang produksi antibodi sehingga jika suatu saat patogen yang sebenarnya menginfeksi, sistem imunitas lebih mudah mengenali dan mengalahkannya. Dengan begitu, tubuh tidak sampai tumbang dan terserang penyakit akibat bakteri dan virus yang dimaksud (2,3).

Masalahnya adalah pemberian vaksin ini menuai pro dan kontra yang membuat keyakinan masyarakat terpecah. Kelompok masyarakat yang pro vaksin berpendapat bahwa vaksin yang dianjurkan dan diberikan oleh pemerintah itu aman karena pasti sudah melalui berbagai uji klinis yang bisa dipertanggungjawabkan. Golongan ini juga setuju bahwa pemberian vaksin dapat mencegah berbagai jenis penyakit yang bukan hanya mematikan, namun juga menular. Lebih lanjut, vaksinasi sebenarnya bukan hanya melindungi diri sendiri namun juga orang lain yang karena alasan tertentu tidak bisa menerima vaksinasi. 

Perlindungan yang dimaksud adalah herd immunity atau imunitas kelompok (2). Di sisi lain, kelompok masyarakat yang kontra terhadap pemberian vaksin berpendapat bahwa memasukkan benda asing ke dalam tubuh sedikit banyak pasti menimbulkan efek samping setidaknya demam, atau yang lebih parah reaksi alergi dan kejang. Selain itu, ada pendapat kalau tanpa vaksin pun sebenarnya tubuh bisa siap melawan penyakit bila menerapkan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi dan olahraga secara teratur. Dan mendapatkan vaksin bukan berarti kebal terhadap serangan penyakit dimana kemungkinan terinfeksi bakteri dan virus masih tetap ada (2,3)

Terlepas dari pro dan kontra yang ada di tengah masyarakat, sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa pemberian vaksin ini penting sekali sebagai bentuk usaha untuk mencegah terjadinya suatu penyakit. Memang ada beberapa efek samping yang mungkin dirasakan seperti demam, pegal-pegal di area yang habis disuntik, tidak enak makan, hingga kejang (2). Namun, hal tersebut biasanya sudah diantisipasi dengan pemberian obat tertentu sesaat setelah vaksin apalagi jika penerima vaksin sebelumnya menginformasikan riwayat kesehatannya kepada paramedis yang bertugas. 

Dan perlu diingat bahwa beberapa orang tidak bisa menerima vaksin misalnya karena usia yang terlalu tua atau kondisi penyakit bawaan seperti autoimun dan hipotiroid. Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, imunitas kelompok bisa diciptakan supaya golongan ini tetap terlindungi dan masyarakat secara keseluruhan dapat hidup sehat dan bebas ancaman infeksi bakteri dan virus.

Selain informasi dasar seputar vaksinasi dan hubungannya dengan sistem imunitas serta pro-kontra pemberian vaksin, ada satu hal lagi yang menarik untuk dibahas yaitu pertanyaan umum seputar vaksinasi. Simak informasinya berikut ini:

1. Kenapa Harga Vaksin Berbeda-beda?

Beberapa jenis vaksin, terutama yang diberikan sejak usia bayi ada yang diberikan secara gratis oleh pemerintah sebagai upaya untuk menyehatkan masyarakat dan anak bangsa. Namun, pemberian vaksin juga bisa dilakukan secara mandiri yang biayanya harus ditanggung sendiri, Nah, bicara soal biaya, kenapa ada vaksin yang murah dan yang mahal padahal jenisnya sama? Vaksin dengan jenis yang sama bisa diproduksi oleh perusahaan farmasi yang berbeda dan dikeluarkan dengan merek yang berbeda-beda. Semakin ternama, terpercaya dan berkelas perusahaannya, biasanya harga vaksin akan semakin mahal.

Selain karena citra produsen, efek samping vaksin yang berharga mahal biasanya relatif lebih sedikit atau ringan daripada vaksin murah atau gratis. Seandainya terjadi demam pun, biasanya tidak sampai parah. Vaksin yang lebih mahal juga biasanya diberikan dalam bentuk single dose alias sekali pakai yang lebih eksklusif dibandingkan dengan sharing dose berbentuk botol kecil yang bisa digunakan bersama-sama. Terlepas dari itu semua, sebenarnya fungsi dari vaksin yang mahal atau murah itu sama yakni membentuk antibodi yang bisa mengenali dan melawan penyakit di masa depan.

2. Vaksin Apa Saja yang Harus Diberikan?

Semakin cepat vaksinasi diberikan akan semakin baik karena tubuh jadi lebih siap menghadapi serangan bakteri dan virus yang bertebaran di luar sana. Itulah sebabnya, beberapa jenis vaksin bahkan diberikan sejak bayi pertama dilahirkan. Pemerintah Indonesia sendiri mewajibkan beberapa jenis vaksin yang harus diberikan pada jenjang usia tertentu seperti berikut ini (1,2):

  • Imunisasi Hepatitis B, merupakan vaksinasi untuk mencegah terjadinya infeksi virus hepatitis B yang menyerang organ hati. Karena virus ini bisa terbawa lewat jalan lahir dan juga peralatan medis yang digunakan untuk membantu proses kelahiran, Hepatitis B pertama harus diberikan 12 jam setelah si Kecil lahir, dan kemudian diulang ketika usianya 1 bulan dan 3-6 bulan. Jarak antara imunisasi pertama dan kedua adalah sekitar 4 minggu.
  • Imunisasi BCG, merupakan vaksinasi yang diberikan ketika bayi berusia 2-3 bulan untuk mencegah infeksi virus penyebab penyakit TBC. Indonesia merupakan negara endemi dengan tingkat penderita dan penularan TBC yang tinggi sehingga buah hati harus mendapatkan vaksin ini.
  • Imunisasi Polio, merupakan vaksinasi yang digunakan untuk mencegah infeksi virus poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Vaksin ini diberikan ketika buah hati berumur 2,4, dan 6 bulan yang kemudian diulang lagi di usia 18 bulan dan 5 tahun.
  • Imunisasi DPT, merupakan singkatan dari Difteri, Pertusis dan Tetanus dimana ketiganya disebabkan oleh virus. Pemberian vaksin DPT dilakukan saat bayi berumur 6 minggu, 4 bulan dan 6 bulan. Nantinya, pemberian vaksin akan diulang di usia 18 bulan, 5 tahun dan 12 tahun.
  • Imunisasi Campak, merupakan vaksinasi untuk mencegah penyakit campak yang diberikan di usia 9 bulan dan juga 6 tahun. Vaksin ini juga ada yang dikombinasikan dengan vaksin gondongan dan campak Jerman yang disebut sebagai MMR untuk diberikan pada usia 15 bulan.

Itulah berbagai informasi penting seputar vaksinasi dan sistem kekebalan tubuh. Terapkan pola hidup sehat dan lakukanlah vaksinasi sesuai dengan jadwalnya supaya si Kecil, keluarga dan komunitas sekitar hidup sehat bersama-sama dengan kekebalan kelompok yang baik.

Referensi:

  1. Vaccines and Immunization, diakses pada 23 Juni 2021 dari https://www.who.int/news-room/q-a-detail/vaccines-and-immunization-what-is-vaccination
  2. Everything You Need to Know about Vaccines, diakses pada 23 Junia 2021 dari https://www.healthline.com/health/vaccinations
  3. Six Things You Need to Know about Vaccines, diakses pada 23 Juni 2021 dari https://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/vaxwithme.html